
Redaksi DPP HILMI menerima dan mempublikasikan kisah berikut sebagaimana disampaikan oleh saudara "R". Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi yang ditulis langsung oleh penulis.
Semoga kisah perjuangannya menjadi jalan datangnya pertolongan dari Allah SWT melalui tangan-tangan para dermawan yang tergerak untuk membantu.
Panggil saja saya "R". Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Saya memiliki seorang kakak perempuan dan dua adik laki-laki. Saat saya masih duduk di bangku SD kelas 1 hingga kelas 2, kehidupan keluarga kami masih berjalan dengan baik. Saya masih merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh.
Namun, ketika saya memasuki kelas 4 SD, rumah tangga kedua orang tua saya mulai mengalami berbagai permasalahan. Puncaknya terjadi saat saya duduk di kelas 6 SD, ketika mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah.
Saya tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Entah karena satu masalah besar atau akumulasi dari berbagai persoalan yang tidak pernah selesai. Yang jelas, perpisahan itu meninggalkan luka dan trauma yang mendalam bagi kami, anak-anaknya.
Saya tidak menyalahkan takdir ataupun keputusan kedua orang tua saya. Mungkin semua itu bukanlah pilihan yang mereka inginkan. Namun sebagai seorang anak, saya tidak bisa memungkiri bahwa keadaan tersebut memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi mental dan kehidupan kami.
Seiring berjalannya waktu, kami perlahan mulai terbiasa dengan keadaan tersebut. Kakak saya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMA dan kini Alhamdulillah telah menikah. Kemudian, Adik saya yang paling bungsu saat ini masih duduk di bangku SMA, sedangkan adik saya yang satu lagi juga menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA.
Sementara itu, saya berkesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Padahal, sebelum masuk kuliah saya sudah sempat mengurungkan niat karena melihat kondisi ekonomi keluarga yang semakin memburuk. Saya merasa kuliah hanya akan menambah beban bagi kedua orang tua saya.
Keinginan untuk kuliah sebenarnya lebih banyak datang dari ibu saya. Beliau selalu berharap saya bisa menjadi orang yang sukses, mampu mengangkat derajat keluarga, membantu saudara-saudara saya, serta tidak mengalami kesulitan hidup seperti yang dirasakan oleh kedua orang tua saya.
Pada awal masa perkuliahan, semua masih berjalan cukup baik. Pembayaran UKT maupun kebutuhan sehari-hari masih dapat dipenuhi. Namun, ketika memasuki semester tiga hingga semester enam, kondisi ekonomi keluarga benar-benar terpuruk. Kedua orang tua saya sudah tidak lagi memiliki pekerjaan sehingga tidak mampu membiayai kuliah maupun kebutuhan hidup saya sehari-hari.

Sejak saat itu, saya bertahan hidup dengan mengandalkan pekerjaan paruh waktu atau pekerjaan panggilan yang datang sesekali. Di saat-saat sulit, saya juga banyak dibantu oleh teman-teman dan organisasi tempat saya beraktivitas.
Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik yang peduli terhadap keadaan saya. Namun, di sisi lain, saya juga merasa tidak enak hati karena terus-menerus merepotkan mereka.
Mungkin banyak yang bertanya, di mana peran kedua orang tua saya? Secara terus terang, sejak mereka tidak lagi bekerja, mereka mengatakan sudah tidak mampu membiayai kuliah maupun kebutuhan hidup saya. Bahkan saya sempat diminta untuk pulang dan berhenti kuliah.
Namun setelah berpikir berkali-kali, saya memutuskan untuk tetap bertahan. Jika saya menyerah begitu saja, saya merasa telah menyia-nyiakan waktu, tenaga, biaya, serta mengecewakan semua orang yang selama ini telah membantu saya. Saya tidak ingin perjuangan mereka menjadi sia-sia.
Walaupun hidup dalam keterbatasan dan harus meminta bantuan dari banyak orang, saya tetap menyimpan keyakinan bahwa suatu hari nanti saya bisa meraih cita-cita saya.
Saya bercita-cita menjadi seorang hakim, bahkan berharap dapat mengabdi di Mahkamah Agung. Saya ingin membalas kebaikan semua orang yang pernah menolong saya dan kelak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, bukan hanya persoalan biaya yang harus saya hadapi. Komunikasi dengan kedua orang tua saya pun semakin jarang. Kami hampir tidak pernah bertemu ataupun sekadar saling bertanya kabar. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Yang saya rasakan hanyalah bahwa saya benar-benar sedang berjuang sendiri menjalani kehidupan ini.
Tidak ada yang mengetahui ketika saya belum makan, ketika saya jatuh sakit, atau saat saya tidak memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semua saya hadapi sendiri sambil terus berusaha bertahan dan menjaga harapan agar suatu saat nanti keadaan bisa berubah menjadi lebih baik.
Demikianlah sedikit kisah perjalanan hidup saya. Terima kasih kepada siapa pun yang telah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Saya hanya bisa berharap semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, kemudahan, dan jalan keluar atas setiap kesulitan yang sedang saya hadapi.
Baca Juga :
