
HILMI - Sigi, Gempa bumi berkekuatan 6,8 magnitudo yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 kembali menimbulkan duka bagi masyarakat. Gempa yang dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu tersebut menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah, terutama di Kabupaten Sigi.
Desa Kamarora A dan Kamarora B di Kecamatan Nokilalaki menjadi kawasan yang mengalami dampak cukup berat. Sementara, getaran juga dirasakan hingga Kota Palu dan sekitarnya.
Berdasarkan data BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, gempa mengakibatkan kerusakan pada ratusan rumah warga, fasilitas ibadah, serta infrastruktur jalan yang mengalami retak, ambles, dan terputus di beberapa titik. Bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di sejumlah wilayah terdampak.
Merespons kondisi tersebut, Relawan HILMI bersama Komunitas Pemulung Amal bergerak cepat pada hari kedua pascagempa, Rabu (17/6/2026), dengan menyalurkan bantuan darurat kepada masyarakat terdampak. Bantuan yang disalurkan berupa 100 paket sembako, 40 dus air mineral gelas, serta 17 lembar terpal untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan.
Selain menyalurkan bantuan, relawan juga melakukan pendataan kebutuhan mendesak masyarakat. Warga menyampaikan bahwa kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan utama karena jaringan air PAM terputus akibat gempa. Selain itu, terpal, selimut, dan perlengkapan bayi juga masih sangat dibutuhkan oleh para penyintas.

Data sementara menunjukkan satu korban meninggal dunia berasal dari Desa Ampera, Kecamatan Palolo. Sementara itu, korban luka ringan terbanyak tercatat berada di Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki. Desa tersebut juga menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar, yakni mencapai 461 kepala keluarga atau sekitar 1.193 jiwa.
Secara keseluruhan, gempa menyebabkan kerusakan pada 466 unit rumah warga, terdiri atas 390 rumah rusak ringan, 64 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. Kerusakan terbanyak terjadi di Desa Kamarora A dengan 336 rumah terdampak, disusul Desa Tongoa dengan 44 rumah mengalami kerusakan.
Di tengah situasi sulit tersebut, kisah pilu datang dari Mama Bosye, seorang janda berusia 67 tahun yang tinggal bersama anaknya, Mama Nire, 42 tahun, yang juga berstatus janda.
Keduanya merupakan warga Desa Kamarora yang rumahnya hancur total akibat gempa. Kemudian, Kepada tim relawan HILMI, mereka menceritakan bagaimana dalam hitungan detik tempat tinggal yang selama ini menjadi pelindung keluarga runtuh akibat guncangan.
Meski hidup dalam keterbatasan, Mama Bosye dan putrinya tetap menyimpan harapan. Mereka berharap ada bantuan untuk membangun kembali rumah sederhana agar dapat berlindung dari panas dan hujan.
Kisah mereka menjadi gambaran nyata bahwa di balik angka-angka kerusakan akibat bencana, terdapat keluarga-keluarga yang masih berjuang untuk memulai kembali kehidupan mereka dari titik nol.
Mari terus bantu saudara kita di berbagai wilayah. Yaitu, dengan berbagai bantuan kemanusiaan, sosial, bencana alam dan lainnya
Salurkan donasi anda melalui :
Bank BSI 7855 58 8875
An.Yayasan HILMI Persaudaraan Islam.
Konfirmasi 0877 7533 9415

Baca Juga :
